
Putaran keenam Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa Grup F yang terdiri dari Armenia, Irlandia, Portugal, dan Hongaria akan segera dimulai.September hingga November mendatang. Laga-laga grup F yang masih belum berjalan dipastikan menjadi momen krusial bagi semua tim untuk meraih impian lolos Piala Dunia. Salah satunya laga kandang Armenia kontra Irlandia.
Armenia jelas akan diuntungkan oleh motivasi dan dukungan dari para penggemar, sebagaimana tim tuan rumah pada umumnya. Sedangkan Irlandia akan berjuang mati-matian demi perebutan juara atau runner-up grup F. Siapa pun pemenangnya, mereka akan mencetak sejarah baru dalam hal pengalaman bermain di kancah internasional.
Bagi para fans setia Armenia, pertandingan ini mungkin akan membangkitkan kembali memori Euro 2012, saat tim kesayangan mereka kalah akibat keputusan wasit yang berat sebelah.
Stadion peninggalan Uni Soviet
Laga pada 9 September mendatang antara Armenia kontra Irlandia di Stadion Republik Vazgen Sargsyan, Yerevan, Armenia, merupakan laga yang digelar di markas skuad Havakakan (julukan timnas Armenia).
Stadion dengan kapasitas mencapai 14.935 penonton merupakan sarana olahraga yang dibangun di era Uni Soviet pada 1935. Berkat kapasitasnya yang luar biasa, Stadion Vazgen Sargsyan beberapa kali digunakan untuk turnamen internasional. Di antaranya, Kualifikasi Euro 2004, 2006, 2008, 2012, dan Kualifikasi Piala Dunia 2014 antara timnas melawan sejumlah tim Eropa, yaitu Spanyol, Portugal, Macedonia, Ceko, dan Rusia.
Head to head Armenia vs Irlandia
Rivalitas Armenia dan Irlandia yang sangat intens diramalkan akan memanaskan atmosfer pertandingan bak pertandingan tim-tim papan atas. Sejauh ini, mereka telah bertemu beberapa kali di mana sebagian besar pertandingan dimenangi oleh Irlandia.
Armenia pertama kali bertanding melawan Republik Irlandia di Euro 2010 dan mengalami kekalahan 0-1. Armenia hanya satu kali menang dalam empat laga melawan Irlandia, yaitu di laga kandang UEFA Nations League pada 2022, dengan skor 1-0.
Kedua tim sedang menjalani persiapan untuk laga ini sebagai antisipasi. Armenia akan bertanding secara ofensif di depan publiknya sendiri. Pemain andalan Armenia, Lucas Zelarayan, diperkirakan akan menjadi ujung tombak sebagian besar serangan, sementara. Arsen Beglaryan akan berperan penting terhadap pertahanan skuad Havakakan
Di sisi lain, Irlandia mengandalkan semangat bertanding dan pertahanannya, sedangkan Evan Ferguson dan Alan Browne dapat berperan penting pada laga ini. Beberapa pemain skuad Boys in Green dikenal publik sepak bola berkat penampilan mereka bersama klub-klub Liga Inggris.
Kenangan pahit Euro 2012
Euro 2012 seharusnya merupakan momen ketika sepak bola Armenia bersinar cerah di turnamen internasional. Skuad Hakakavan mencatat raihan gol terbanyak di Grup B, yaitu 22 gol, dan tidak pernah kalah di semua pertandingan fase penyisihan grup. Irlandia berada di grup yang sama bersama Armenia, Andorra, Slovakia, Macedonia, dan Rusia.
Di pertandingan penentu melawan Irlandia, wasit memberikan kartu merah pada kiper Armenia Roman Berezovsky karena menyentuh bola dengan tangan di luar area gawang. Keputusan ini kontroversial karena tuduhan tersebut tidak terbukti dalam rekaman ulang.
Untuk mengatasi kekosongan di posisi penjaga gawang, satu pemain Armenia dikeluarkan untuk diganti penjaga gawang cadangan. Timnas Armenia rupanya kena mental lantaran protes mereka tidak diterima oleh wasit. Akibatnya, salah satu dari mereka melakukan gol bunuh diri.
Wasit Eduardo Gonzalez asal Spanyol cenderung berpihak pada Irlandia dalam pertandingan itu. Ia tidak memberikan hukuman ketika striker Irlandia Simon Cox menyentuh bola dengan tangannya, sebagaimana terlihat jelas dalam tayangan ulang.
Diperkuat pemain naturalisasi dan terdampak sanksi
Timnas Armenia berada di bawah pengawasan Federasi Sepakbola Armenia. Setelah merdeka dari Uni Soviet, mereka menjalani pertandingan pertamanya pada 12 Oktober 1992. Armenia saat ini menempati peringkat 105 FIFA.
Skuad Havakakan telah berpartisipasi di berbagai turnamen besar mulai dari Piala Eropa 1996. Namun, mereka belum pernah lolos fase penyisihan grup Piala Eropa maupun Piala Dunia. Pencapaian terbaik mereka adalah finis di posisi ketiga pada babak kualifikasi Piala Eropa 2012 dan maju ke Nations League 2022-2023.
Kenangan pahit Euro 2012 rupanya menjadi trauma yang mendalam bagi para pemain muda Armenia saat itu dan seluruh komunitas sepak bola Armenia hingga beberapa tahun sesudahnya. Skuad Hakakavan tidak lolos kualifikasi Piala Dunia 2014, Euro 2016, dan berbagai turnamen internasional lainnya, kecuali Nations League 2022 – 2023.
Di bawah asuhan pelatih Yegishe Melikyan, berbagai strategi digencarkan guna membangkitkan kembali semangat juang skuad Hakakavan. Termasuk dengan merekrut beberapa pemain dari luar negeri sebagai pemain timnas, alias naturalisasi.
Armenia bakal diperkuat dua pemain naturalisasi asal Nigeria, Solomon Udo (gelandang) dan Ugochukwu Iwu (gelandang), yang masing-masing bermain di liga Arab dan Rusia. Ada juga kiper kelahiran Serbia yang bermain di klub Armenia, Ognjen Cancarevic, bek kelahiran Swedia Andre Calisir, dan pemain blasteran Argentina – Armenia, Lucas Zelarayan (gelandang) yang menjadi andalan timnas leluhurnya.
Sebagai akibat sanksi atas sepak bola Rusia sejak 2022, beberapa pemain kelahiran Rusia hijrah ke Armenia guna melanjutkan karir sepak bola mereka di level internasional dan memperkuat timnas Armenia. Di antaranya, Georgy Arutyunyan (bek), Nair Tiknizyan (bek), Sergey Muradyan (bek), dan sejumlah pemain lainnya.
Gagal menang akibat temperamental
Timnas Irlandia berada di bawah pengawasan oleh Asosiasi Sepakbola Irlandia (FAI). Mereka menjalani debutnya di Olimpiade 1924 dan berhasil mencapai perempat final. Pada tahun 1924 hingga 1936, Irlandia bertanding sebagai Negara Bebas Irlandia (Irlandia Selatan) dan hingga 1950, FAI menyebut nama tim ini Eire atau Irlandia.
Akibat gejolak politik, muncul tim lain yang mengusung nama Irlandia di bawah Asosiasi Persepakbolaan Irlandia (IFA). Tim ini muncul sebagai akibat dideklarasikannya Irlandia Utara sebagai negara, setelah sebelumnya diakui sebagai provinsi Inggris.
Pada tahun 1953, FIFA menetapkan baik Irlandia (Selatan) dan Irlandia Utara dapat mengikuti berbagai laga di turnamen internasional, sehingga FAI secara resmi disebut sebagai Republik Irlandia, sedangkan IFA disebut sebagai tim Irlandia Utara.
Republik Irlandia merupakan negara pertama di luar Britania Raya (United Kingdom) yang berhasil mengalahkan Inggris di kandang pada 1949, tepatnya di Stadion Goodison Park, Liverpool. Skuad berjuluk The Boys in Green itu berhasil lolos ke babak perempat final di Piala Nasional Eropa 1964.
Di bawah asuhan pelatih Jack Charlton, Irlandia berada di era emasnya setelah mencapai peringkat keenam FIFA pada Agustus 1993, lolos ke Piala Eropa 1988, lolos ke babak final di Piala Eropa 1990, dan mencapai 16 besar di Piala Eropa 1994. Setelah beralih ke pelatih baru Mick McCarthy, skuad The Boys in Green tersebut lolos ke Piala Dunia 2002. Momen itu terulang pada Piala Eropa 2016 di bawah asuhan Martin O’Neill.
Skuad Boys in Green mengalami penurunan prestasi selama 1996-2007, saat masa generasi emas sepak bola Irlandia bertambah usia. Di era inilah sejumlah pemain terpandang Irlandia terlibat perselisihan justru saat mereka bertanding di turnamen besar.
Akibat hasil draw melawan Turki di laga penentu Kualifikasi Euro 2000, yang akhirnya dimenangi Turki, striker Tony Cascarino yang sudah berkarir selama 14 tahun berkelahi melawan seorang pemain Turki. Insiden ini menjadi sorotan publik Irlandia, sehingga Cascarino memutuskan untuk mengundurkan diri dari sepak bola tak lama setelahnya.
Perselisihan lain terjadi menjelang Piala Dunia 2002 antara striker Roy Keane dan pelatih Mick McCarthy dikenang publik karena terjadi di markas timnas di Saipan, Jepang. Perang mulut tersebut berakibat Keane dikeluarkan dari timnas, dan tanpa dirinya Irlandia harus angkat koper lebih awal karena kalah poin di fase penyisihan grup.
Markas utama timnas Irlandia adalah Stadion Aviva, Dublin. Jersey hijau dan celana putih menjadi warna ciri khas Irlandia. Manajer Irlandia saat ini adalah Heimir Hallgrimsson. Seamus Coleman menjadi kapten Irlandia sejak 2016 silam. Menurut statistik terkini, Irlandia bertengger di peringkat 60 FIFA.
Sebagian besar pemain timnas Irlandia merumput di Liga Premier Inggris, tetapi Ferguson, pemain cemerlang di skuad Boys in Green saat ini justru bermain untuk AS Roma.
Timnas Irlandia harus berhadapan dengan jadwal yang padat, karena tiga hari sebelum bertanding melawan Armenia mereka harus terlebih dahulu berhadapan dengan Hongaria pada 6 September, sesuai format Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Menariknya, pelatih skuad Garuda Patrick Kluivert pernah memimpin tim Oranye Belanda mengalahkan Irlandia melalui dua golnya di laga kualifikasi Euro 1996 antara Belanda melawan Irlandia.
Akankah Kluivert menuai hasil yang sama sebagai pelatih timnas Indonesia? Cek jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 Indonesia agar tak melewatkan pertandingan timnas berikutnya.