Peluang Terakhir Sang Bintang: Mampukah Portugal Menang Piala Dunia 2026? 

Peluang Terakhir Sang Bintang: Mampukah Portugal Menang Piala Dunia 2026?

Seperti yang sudah-sudah, Portugal kembali dijagokan sebagai juara Piala Dunia 2026. Dengan bertambahnya jumlah peserta sesuai format baru Piala Dunia 2026, tim terbaik manapun di jagat raya akan menghadapi ujian besar bagi kemampuan mereka di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun depan.

Bertengger di peringkat 6 FIFA dan dikapteni salah satu pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo, tampaknya belum cukup untuk mengantarkan Portugal menyabet piala impian seluruh insan sepak bola dunia. Nasib Portugal tak jauh beda dengan Belanda, sesama tim jawara yang belum pernah menang Piala Dunia.

Ada apa dengan Portugal? Mampukah skuad Lusitania mencapai cita-cita menjadi juara dunia sepak bola? 

Sukses besar di Nations League UEFA

Saat negara lain sedang memulai babak kualifikasi Piala Dunia 2026 di awal tahun ini, Portugal sedang berjuang di babak final Liga Nasional (UEFA Nations League). Tim berjuluk Selecao das Quinas meraih gelar juara pada edisi pertama ajang ini pada 2019 dan menjadi tim pertama yang meraih gelar kedua pada Juni lalu.

Rekor tak terkalahkan pada 2024 yang diikuti dengan kekalahan tipis dari Denmark dan kemenangan di leg kedua membuka jalan Portugal menuju babak final. Jerman, yang sedang berada dalam performa tinggi, tersingkir dari babak semifinal sebelum Portugal berhasil mengalahkan Spanyol di babak final melalui adu penalti. 

Babak Kualifikasi

Saat ini, Portugal sedang mempersiapkan diri untuk menjalani babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa. Sebagian besar tim Eropa telah menjalani tiga atau empat laga pembuka, tetapi ada beberapa peserta yang masih belum menjalani satu pun pertandingan grup karena masih mengikuti di Nations League. 

Di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Portugal berada di Grup F bersama Hungaria, Irlandia, dan Armenia. Laga pertama grup ini akan berlangsung 6 September mendatang, di mana Portugal akan melakukan laga tandang di Armenia.

Tiga hari kemudian, skuad Selecao das Quinas akan terbang ke Hongaria sebelum menjalani laga kandangnya melawan Irlandia pada Oktober mendatang. Hanya ada satu tempat untuk lolos otomatis ke Piala Dunia, yaitu juara grup. 

Dunia akan patah hati seandainya Portugal gagal juara grup. Meski masih ada peluang bagi Portugal untuk lolos ke Piala Dunia, yakni maju ke babak playoff dengan finis runner-up bila Ronaldo dkk. gagal. Portugal juga harus menyelesaikan putaran ketiga Kualifikasi pada November mendatang agar berhasil lolos babak final Piala Dunia untuk ketujuh kalinya. 

Perjalanan Portugal di rimba sepak bola

Meski Portugal merupakan salah satu tim tangguh Eropa dalam 20 tahun terakhir, mereka belum pernah sekalipun lolos ke babak final Piala Dunia. Selecao das Quinas meraih gelar juara Piala Eropa 2016, tetapi mereka belum pernah mencapai semifinal Piala Dunia.

Portugal baru sekali lolos ke babak final Piala Dunia, yaitu pada edisi 1966. Namun, sejak saat itu, mereka mengalami banyak kekecewaan besar dan ujian bagi mentalitas mereka sebagai sebuah tim pesepakbola profesional. 

Selecao das Quinas selalu lolos Piala Dunia sejak 2002, tetapi mereka selalu terhenti di babak penyisihan grup atau babak 16 besar. Pada Piala Dunia 2022 Qatar, Portugal lolos ke babak perempat final, tetapi kalah secara mengejutkan dari Maroko. 

Apa yang terjadi di masa sekarang sedikit banyak dipengaruhi oleh segala peristiwa yang terjadi di masa lalu. Hal ini juga berlaku buat timnas Portugal. Ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah tim ini yang turut andil dalam membentuk wajah dan pencapaiannya di masa kini. 

Skandal Saltillo

Skuad Lusitania pernah terlibat sebuah skandal menggemparkan di jagat sepak bola, tepat di saat berlangsungnya Piala Dunia 1986 Meksiko. Skandal Saltillo, demikianlah pers Portugal menyebutnya, terjadi akibat berbagai masalah yang berkelindan menyangkut berbagai aspek, mulai teknis latihan, profesionalisme pemain, hingga manajemen. 

Tim pelatih diduga terlalu membebani para pemain Portugal saat itu dengan latihan dataran tinggi (altitude training, sesi latihan bagi para pemain sepak bola di lokasi berketinggian di atas 2.400 meter yang bertujuan meningkatkan ketahanan pemain), yang berdampak pada mental pemain. Seorang pemain Portugal mengambil jalan pintas dengan melakukan doping guna meningkatkan ketahanan fisiknya, sehingga ia dipecat dari timnas.

Masalah tidak berhenti di situ.

Saltillo merupakan markas tim Portugal saat itu, yang oleh tuan rumah Meksiko digambarkan sebagai lokasi tenang dan damai. Kenyataannya, alih-alih disambut hangat, tim Portugal justru kehilangan uang dalam jumlah besar akibat penipuan oleh oknum setempat. Mereka juga diterpa isu menyewa PSK. Puncaknya adalah para pemain dipaksa mengiklankan beberapa produk tanpa mendapat bayaran sepeserpun. 

Sebagai bentuk protes atas situasi itu, timnas berikut pelatih Portugal menolak bermain setelah tidak ada kejelasan dari federasi sepak bola Portugal (FPF) perihal bonus pemain. Ujung-ujungnya, timnas Portugal tetap bermain dengan membalik jersey mereka sehingga berbagai merek yang menghiasi kostum mereka tidak terlihat. 

Ironisnya, kejadian serupa terulang saat Portugal bertandang ke Jepang – Korea Selatan dalam rangka Piala Dunia 2002. Seorang pemain terbukti doping, sementara beberapa pemain lainnya ketahuan berjudi di Macau. 

Battle of Nuremberg

Battle of Nuremberg adalah nama yang diberikan media sepak bola untuk laga bersejarah antara Portugal melawan Belanda di babak 16 besar Piala Dunia 2006 Jerman. Laga ini tercatat sebagai laga penuh emosi dan salah satu yang paling ‘berdarah’, sehingga wasit asal Rusia Valentin Ivanov menghadiahkan total 4 kartu merah dan 16 kartu kuning bagi kedua kubu. 

Dua tahun sebelumnya, Portugal dan Belanda pernah saling berhadapan di semifinal Euro 2004 di Portugal, di mana Belanda kalah 1-2. Nasib mempertemukan 5 pemain Belanda dan 11 pemain Portugal dalam pertandingan itu di laga Nuremberg. Meski tak diakui terang-terangan, kedua kubu tampaknya sudah berniat untuk membalas dendam sejak awal.

Wasit Ivanov rupanya sudah membaca gelagat ini. Babak pertama baru berjalan 19 menit saat ia mengeluarkan kartu kuning ketiga. Ronaldo yang saat itu berusia 19 tahun terpaksa meninggalkan lapangan sambil berurai air mata lantaran cedera setelah ditekel bek Belanda Khalid Boulahrouz. 

Skuad Oranye mendapat 7 kartu kuning dan 2 pemain diusir keluar akibat akumulasi kartu kuning, sementara Selecao das Quinas mendapat 9 kartu kuning dan 2 pemain yang juga diusir keluar akibat akumulasi kartu.

Usai pertandingan, banyak pihak mengecam keputusan Ivanov, termasuk presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter, yang menyebut Ivanov seperti ATM kartu kuning berjalan. Blatter kemudian menyesali ucapannya sendiri, setelah menyadari bahwa para pemain Portugal dan Belanda memang sama-sama tidak mematuhi peraturan dan bermain keras, sehingga layak diberi kartu kuning.


Peluang terakhir Ronaldo

Di usianya yang telah menginjak 40 tahun, Piala Dunia 2026 akan menjadi peluang terakhir striker kawakan Cristiano Ronaldo untuk setara dengan pencapaian rival terdekatnya, Lionel Messi, yaitu pemain terbaik dunia yang sukses mempersembahkan kemenangan bagi negaranya. Ronaldo masih dalam kondisi prima dan telah memperpanjang kontraknya bersama Al-Nassr FC selama dua tahun.

Tak diragukan lagi, ia masih menjadi sosok andalan Portugal dan juga masih garang di lapangan. Namun, para pesepakbola berusia 40 tahun ke atas harus membatasi keterlibatan mereka dalam beberapa pertandingan demi menjaga kebugaran fisik. 

Ronaldo mungkin masih akan bertanding di sebagian besar babak kualifikasi, tetapi ia mungkin akan diistirahatkan selama babak final pada musim panas tahun depan bila cuaca Amerika terlalu panas. 

Menurunkan Ronaldo untuk tendangan penalti juga bukan ide bagus bagi coach Roberto Martinez. Sebagai top skorer bagi timnya, Ronaldo memang mencetak gol di nyaris semua laga Selecao das Quinas. 

Berdasarkan pantauan media sepak bola, Ronaldo nyaris selalu gagal dalam mengeksekusi tendangan penalti, baik di level timnas maupun klub. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula Ronaldo di mana tendangan penalti menjadi titik lemahnya. 

Prediksi starting XI Portugal

Portugal berada di jalur yang relatif mudah untuk lolos ke putaran final, dengan lawan-lawan di Grup F yang levelnya berada jauh di bawah Ronaldo dkk. 

Trio gelandang Portugal, yakni Vitinha, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva, punya potensi untuk jadi sehebat trio Spanyol Xavi, Andres Iniesta, Sergio Busquet. Coach Martinez perlu mempertimbangkan kombinasi terbaik yang memadukan striker Serie A Rafael Leao dan Francisco Conceicao guna membantu Ronaldo di lini depan. 

Nuno Mendes, Gonçalo Inácio, Ruben Dias, dan Nelson Semedo merupakan pilar pertahanan Selecao das Quinas yang bisa diandalkan, dengan Diogo Costa di bawah mistar gawang. Kerja sama mereka dapat menciptakan stabilitas pertahanan bagi Portugal, sekaligus memberikan ruang gerak yang lebih luas untuk membangun serangan. 

Prediksi starting XI Portugal (formasi 4-3-3): Costa; Mendes, Inácio, Semedo, Dias; Bernardo, Vitinha, Bruno; Conceicao, Ronaldo, Leao. 

Cek jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 UEFA agar tak ketinggalan laga kualifikasi lainnya di Zona Eropa. 

Mainkan Taruhan Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sekarang!

Berita Terbaru