
Sepak bola dalam pelukan politik
Setelah Nations League berakhir dengan kemenangan Portugal, sepak bola Eropa saat ini sedang berfokus pada Kualifikasi Piala Dunia 2026. Babak ini akan menentukan tim yang berhasil mengamankan tiket menuju turnamen puncak sepak bola dunia, minus Rusia yang sedang mengalami sanksi FIFA dan UEFA akibat masalah geopolitik.
Invasi Rusia ke Ukraina membuat FIFA dan UEFA melarang Rusia mengikuti seluruh turnamen sepak bola internasional. Kongo dan Pakistan juga menghadapi sanksi serupa. Kongo dilarang tampil akibat interferensi pihak ketiga dalam federasi sepak bolanya. Sedangkan Pakistan dilarang tampil karena gagal memperbarui sistem guna menjalankan pemilihan anggota federasi sepak bola yang berjalan adil dan demokratis sesuai peraturan FIFA.
Menjelang berlangsungnya laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Israel kontra Italia 8 September mendatang, Asosiasi Pelatih Sepak Bola Italia (AIAC Nazionale) mengirim surat terbuka berisi desakan agar Federasi Sepak Bola Italia menuntut Israel dikeluarkan dari kompetisi FIFA dan UEFA akibat konflik yang masih berlangsung di Gaza.
Surat permohonan yang berjudul “Israel Harus Berhenti. Sepak Bola Juga Harus Bertindak” diajukan kepada Presiden Federasi Italia Gabriele Gravina dan federasi nasional lainnya untuk mendukung warga Palestina dan meminta intervensi UEFA dan FIFA secara formal.
Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Italia tidak memberikan komentar terkait surat terbuka itu.
AIAC Nazionale rupanya tidak menyadari bahwa konflik politik sudah menghilangkan hak Israel sebagai peserta Kualifikasi Piala Dunia 2026 untuk bermain di depan publiknya sendiri.
Demi keamanan semua pihak, semua laga di mana Israel menjadi tuan rumah harus diadakan di lokasi netral sampai waktu yang belum ditentukan. Inilah mengapa laga Israel kontra Italia digelar di Stadion Nagyerdei, Debrecen, Hungaria.
Antisemitisme dalam sepak bola Italia
Kemunculan surat terbuka dari para pelatih Italia cukup membingungkan, karena relasi antara Italia dan Israel selama ini tampak baik-baik saja. Bahkan klub-klub top kedua negara menjalin kerja sama guna mengatasi segala bentuk rasisme dalam sepak bola, yang merupakan masalah pelik di Eropa.
Maret lalu, klub Serie A Italia Lazio dan dua klub ternama Israel, yaitu Maccabi Haifa dan Maccabi Tel Aviv telah membentuk kemitraan untuk menangani diskriminasi dalam sepak bola.
Kerja sama ini diumumkan melalui sebuah pernyataan resmi yang dirilis setelah pertemuan antara perwakilan masing-masing klub di Israel, yang menandakan awal kerja sama untuk mengembangkan “sinergi di dunia sepak bola” sembari “mempromosikan makna integrasi dan inklusi sosial.”
“Kolaborasi ini akan berfokus pada proyek kesadaran dan berjuang menghadapi semua bentuk diskriminasi,” ungkap pernyataan tersebut.
“Kami berharap yang terbaik bagi seluruh pihak dalam menjalin relasi penting antar klub dan antar Israel dan Italia,” kata Lion Cohen, wakil CEO dan direktur sepak bola Maccabi Israel, yang membawahi dua klub asal Tel Aviv dan Haifa di atas.
Tindakan rasisme dan antisemitisme mudah ditemui di berbagai stadion di Italia. Misalnya, para penonton yang mencemooh atau menyoraki para pemain kulit hitam menggunakan kata “Yahudi” sebagai ejekan, sembari mempertontonkan simbol Nazi atau fasis.
Lazio dan rivalnya satu kota, AS Roma, sudah bertahun-tahun berusaha menindak tegas oknum penggemar sayap kanan yang menyerukan slogan rasisme dan fasis dalam pertandingan mereka di stadion.
“Kami akan menyusun Memorandum untuk menciptakan sinergi teknis dalam sepak bola, mempromosikan pertukaran budaya, dan meluncurkan kampanye anti diskriminasi dan kebencian rasial,” kata ketua Lazio Claudio Lotito saat itu. Perlu diketahui bahwa tokoh ini merupakan anggota dewan dari Partai Forza Italia yang dikenal berpandangan sayap kanan moderat.
Menengok kembali sejarah Italia, kita tidak akan heran bila sentimen rasisme dan antisemit begitu kuat di negeri Azzuri. Di era Perang Dunia II, Italia di bawah Mussolini merupakan sekutu Jerman di masa Hitler berkuasa. Mereka menganut pandangan politik yang sama, dan sama-sama menganut prinsip anti Yahudi.
Meskipun sentimen ini sempat mereda selama berpuluh-puluh tahun, isolasi COVID19, masalah ekonomi, dan geopolitik mendorong rakyat Italia kembali pada ‘ajaran sesat’ rasisme dan antisemitisme.
Italia sedang terjepit
Italia dijadwalkan mengunjungi Israel pada 8 September untuk menjalani laga Kualifikasi Zona Eropa. Hasil pertandingan ini dipastikan berdampak signifikan terhadap peluang kedua tim untuk lolos Piala Dunia 2026, atau setidaknya mengamankan tiket playoff.
Sesuai format Kualifikasi Piala Dunia 2026, Italia dan Israel berada di Grup I bersama Norwegia, Estonia, dan Moldova. Norwegia memimpin klasemen dengan 12 poin dari empat laga, sedangkan Israel berada di posisi kedua dengan enam poin, unggul tiga dari Italia dalam dua laga terakhir.
Azzuri sedang tidak baik-baik saja mengingat prestasi mereka sedang jeblok di kancah sepak bola internasional. Mereka sudah dua kali tidak lolos Piala Dunia, yaitu di 2018 dan 2022. Kekalahan 0-3 dari Norwegia merupakan hasil yang memalukan bagi tim negara dengan liga sepak bola terbaik sedunia.
Sejumlah kalangan menilai, surat terbuka para pelatih Italia terkait Palestina-Israel hanyalah akal bulus untuk menghindari pertemuan antara Italia dan Israel. Mungkin lantaran para pelatih Italia tidak yakin Azzuri mampu menang atas Israel dan bisa lolos Kualifikasi Zona Eropa.
Jalan terjal menuju prestasi
Timnas Israel berada di bawah pengawasan Asosiasi Sepak Bola Israel. Mereka merupakan anggota Konfederasi Eropa UEFA sejak tahun 1994. Sebelumya, Israel merupakan anggota AFC dan menjadi pemenang Piala AFC 1964. Sampai terjadilah pertandingan final sepak bola Asian Games 1974 yang mempertemukan antara Israel dan Iran, di mana Iran menjadi tuan rumah.
Asal tahu saja, babak final sepak bola Asian Games 1974 merupakan final sepak bola internasional dalam sejarah yang paling kental nuansa politik dan antisemit, ketika para pemain Israel menghadapi tekanan yang luar biasa dari para penonton dan para pemain Iran. Menariknya, saat itu Israel merupakan sekutu dekat penguasa Iran Mohammad Reza Pahlavi dan dua negara itu masih menjalin hubungan diplomatik.
Pertandingan terpanas dalam sejarah itu nyaris tidak membuahkan gol satu pun, dan satu-satunya gol untuk Iran adalah gol bunuh diri salah satu pemain Israel. Ironisnya, Asian Games 1974 merupakan partisipasi terakhir Israel di zona Asia. Negara-negara Muslim dan Arab mengeluarkan timnas Israel dari keanggotaan AFC tak lama setelah final terpolitis dan terpanas yang jarang dibahas media tersebut.
Walaupun sepak bola sudah menjadi tradisi Israel sejak masa pendudukan Kekaisaran Ottoman, Israel belum mampu berbicara banyak di turnamen sepak bola internasional. Mereka belum pernah lolos babak kualifikasi, baik level Eropa maupun Piala Dunia.
Penyebab utamanya sudah jelas, yaitu masalah politik seputar Palestina-Israel yang sering kali menjadi biang dikucilkannya Israel oleh negara-negara tetangganya. Pemecatan Israel dari keanggotaan AFC adalah pukulan telak yang diskriminatif, meski tidak diakui oleh mereka yang terlibat dalam kasus itu sampai saat ini. Apalagi bila mengingat sejarah AFC, di mana Israel merupakan salah satu negara yang ikut mendirikannya.
Kabar baiknya, Israel yang saat ini berada di peringkat 75 FIFA tidak kekurangan pemain muda berbakat dari berbagai latar belakang dan haus gol. Di bawah asuhan pelatih Ran Ben Shimon, penjaga gawang Daniel Peretz yang bermain di Liga Jerman berhasil membatalkan 6 gol ke gawangnya selama turnamen Kualifikasi Zona Eropa Grup I.
Di lini pertahanan, ada Eli Dasa, kapten Israel keturunan Ethiopia, bersama tiga rekannya, yaitu Roy Revivo, Raz Shlomo, dan Idan Nachmias. Gelandang Mohammad Abu Fani telah mencatat dua gol selama Kualifikasi Zona Eropa, masing-masing di laga melawan Estonia dan Norwegia. Demikian pula Don Biton, gelandang Israel yang berhasil menyarangkan dua gol ke gawang Estonia dalam laga Juni lalu.
Dua pemain tengah Israel ini dipastikan akan menjadi andalan timnya di sisa laga Grup I. Kerja sama tim yang baik dengan gelandang lainnya, seperti Dor Peretz, Manor Solomon, Oscar Gloukh, Eliel Peretz, dan Mahmoud Jaber dapat membuka peluang skuad Skyblue untuk mencapai cita-cita lolos Piala Dunia.
Sampai saat ini, hanya satu striker Israel yang berhasil mencetak gol, yaitu Dor Turgeman, di laga melawan Norwegia. Meski demikian, coach Ben Simon dapat menggunakan taktik andalannya guna menutupi kekurangan di lini depan.
Prediksi starting XI Israel: Peretz; Dasa, Revivo, Shlomo, Nachmias; Abu Fani, Biton, D. Peretz, Solomon, E. Peretz; Turgeman.
Mampukah skuad Skyblue and Whites, julukan timnas Israel, meraih prestasi memuaskan di tengah masalah politik yang membelit negara mereka? Jangan lewatkan laga lainnya di turnamen Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa.