
Messi duduk di bangku cadangan?
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni mengaku bahwa ia akan menggelar rapat pribadi dengan Lionel Messi. Mereka berdua akan berdiskusi tentang rencana skuad di Piala Dunia 2026.
Skuad berjuluk Albiceleste itu sedang sibuk untuk menyusun rencana bersama dalam mempertahankan gelar juara Piala Dunia mereka. Messi diperkirakan akan menjadi salah satu pemain yang merebut trofi legendaris itu di tengah perbincangan seputar kabar pensiun dari sepak bola internasional sebelum turnamen empat tahunan itu dimulai.
Pemenang delapan gelar Ballon d’Or itu belum mengkonfirmasi keterlibatannya secara langsung. Namun, ia berkarir bersama juara Piala MLS, Inter Miami. Bahkan banyak pihak yang memprediksi bahwa ia akan kembali bertanding di Piala Dunia yang digelar di Amerika Utara.
“Saya harap dapat bertanding di sana. Sebelumnya, saya pernah berkata bahwa saya ingin sekali bertanding di benua itu. Namun, skenario terburuknya adalah bahwa saya akan tetap hadis di Piala Dunia untuk menonton pertandingan tim kami secara langsung dari bangku cadangan, tetapi hal itu akan lebih spesial. Piala Dunia begitu spesial bagi semua orang, negara manapun khususnya kami, karena kami menjalani turnamen ini dengan cara yang berbeza,” kata Messi melalui wawancara, terkait rencana yang dilakukannya pada Piala Dunia 2026 format baru.
“Sebenarnya, kami sudah berbicara tentang rencana itu. Ia paham dan kami berdiskusi tentang hal ini. Ia selalu memberi tahu saya bahwa ia ingin bertanding di sana dalam peran apapun. Kami memiliki hubungan kepercayaan besar dan kami bisa berbicara tentang segalanya,” tambah Messi tentang pembicaraannya dengan Scaloni.
Kini Scaloni menggelar diskusi lanjutan bersama sang kapten. Messi telah kembali ke Argentina untuk menjalani pertandingan pasca musim MLS.
“Saya bertemu dengan Leo karena kami memiliki hubungan yang dekat. Kami sering minum kopi. Kita yang mengenalnya tahu bahwa dia tidak akan pernah bersantai. Ia dilahirkan untuk terus merebut gelar juara. Ia selalu ingin bertanding di sana. Hal itu sangat penting bagi rekan setimnya bahwa seorang kapten memang berperilaku seperti itu. Ia selalu hadir untuk bertanding. Itu merupakan warisan yang akan ia tinggalkan. Mereka yang hadir akan menjadi penerus Messi,” ujar Scaloni.
Saat ini, Scaloni mengaku bahwa ia telah menyusun daftar 50 pemain, yang jumlahnya akan berkurang dalam beberapa bulan yang akan datang. “Pada Piala Dunia edisi sebelumnya, kami pernah memiliki pemain yang cedera menjelang tanggal itu. Kami tidak bisa mengeluarkan mereka. Itulah alasan kami memiliki daftar pemain yang cukup banyak,” tegasnya.
Salah satu calon pemain dalam daftar tersebut adalah Thiago Armada. Pesepakbola 24 tahun itu telah disebut-sebut sebagai calon penerus Messi sebagai pemegang nomor punggung 10, tetapi ia mengalami masa sulit di Atletico Madrid sejak pindah ke Spanyol pada pertengahan 2025 lalu.
Kini, mantan pemain Botafogo itu tertuju pada spekulasi transfer tersebut. “Kami seharusnya tidak boleh ikut campur soal itu. Setelah ia membuat keputusannya, kami akan menganalisa performanya dalam seluruh pertandingan yang ia jalani, dan memantau apakah ia tampil baik dalam level yang kita anggap mampu tercapai,” kata Scaloni, tentang pemain berbakat yang juga jadi bagian dalam skuad juara Piala Dunia 2022.
“Kasus Thiago masih sama. Saya tidak mengetahui tentang hal yang akan terjadi dengannya, tetapi kita akan mengevaluasi sesuai keputusan yang ia ajukan dan ia merupakan seorang pemain yang penting bagi kami. Hal yang akan menentukan nasibnya adalah performnya sendiri, bukan liga atau tim,” tambahnya.
Scaloni memperkirakan bahwa skuadnya di Piala Dunia 2026 akan tampak mirip dengan edisi sebelumnya di Qatar. Pelatih 47 tahun itu mengaku bahwa ia tidak diberi alasan untuk melakukan perubahan tersebut dan juara dunia bertahan memiliki hak untuk terus maju demi meraih gelar tersebut.
“Mereka harus berada dalam performa terbaik menjelang pertandingan. Saya tidak mengatakan bahwa melakukan hal itu sudah percuma, tetapi hal yang paling penting adalah fokus bertanding pada bulan Maret. Mereka memerlukan sedikit keberuntungan agar tiba dalam kondisi prima,” katanya.
Argentina berada di Grup J Piala Dunia 2026. Mereka akan kembali berupaya mencapai tujuan mempertahankan gelar juara saat menghadapi Aljazair pada 26 Juni di Kansas City, yang diikuti dengan laga-laga berikutnya melawan Austria dan Yordania di babak penyisihan grup.
Messi tak ingin jadi pelatih
Menjadi pelatih utama atau direktur teknik suatu tim sepak bola, baik level klub maupun tim nasional, merupakan pilihan karir para mantan pesepakbola. Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, Johan Cruyff, Zinedine Zidane, dan Didier Deschamps merupakan nama-nama mantan bintang yang juga menuai sukses sebagai pelatih.
Namun, ada juga yang kurang mujur, di antaranya Xabi Alonso yang baru saja dipecat sebagai pelatih Real Madrid di awal tahun 2026. Patrick Kluivert, mantan pelatih timnas Indonesia, juga termasuk dalam kategori ini.
Sang bintang timnas Argentina, Lionel Messi memilih untuk menjadi pemilik klub, bukan pelatih, apabila ia pensiun sebagai pemain sepak bola. Oktober 2025 lalu, ia memperpanjang kontrak bersama Inter Miami hingga musim 2028 mendatang.
“Saya tidak akan menjadi pelatih,” kata pesepakbola yang sudah menginjak usia 38 tahun tersebut, dalam wawancaranya di kanal streaming Luzu TV Desember lalu. “Saya suka manajemen. Namun, jika saya diperkenankan memilih profesi bila sudah pensiun nanti, saya lebih memilih jadi pemilik klub.”
“Saya ingin memiliki klub sendiri, terus berkembang, memulai dari awal dan bisa memberikan peluang kepada para pemain muda berbakat, berpeluang untuk tumbuh, dan menjadikan klub yang begitu penting,” tambah Messi.
Setelah berhasil mengantarkan Argentina menuju gelar juara Piala Dunia Qatar 2022, Messi sudah menjadi bagian dari pemilik tim divisi keempat Uruguay, Deportivo LSM, yang sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Luis Suarez.
“Deportivo LS merupakan impian keluarga yang dimulai pada 2018. Kita terus berkembang dengan lebih dari 3.000 anggota,” kata Suarez pada Mei lalu melalui video bersama Messi. “Saya ingin membangun sepak bola Uruguay, karena ini merupakan tempat yang saya sukai. Uruguay juga merupakan tempat di mana saya berkembang sebagai pemain muda. Ruang dan peluang bagi anak-anak dan remaja untuk tumbuh.”
Pemegang delapan gelar Ballon d’Or Messi juga memiliki saham kepemilikan kecil yang tercantum dalam kontraknya bersama Inter.
Musim ini, Messi berhasil meraih penghargaan Golden Boot setelah mencetak 29 gol, unggul lima atas Denis Bouanga (LAFC) dan Sam Surridge (Sam Surridge). Ia juga mencatat 19 assist dan 48 kontribusi gol yang diraihnya hanya terpaut satu angka dari Carlos Vela pada 2019 silam.
Messi juga menjadi pemain pertama yang meraih dua penghargaan MVP beruntun dalam sejarah MLS.
Perjalanan karir Lionel Messi
Lionel Messi memulai perjalanan kariernya jauh dari sorotan besar yang kini melekat pada namanya. Ia lahir di Rosario, Argentina, pada 24 Juni 1987, dan sejak kecil sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam bermain sepak bola. Messi kecil dikenal pendiam, bertubuh kecil, tetapi memiliki kontrol bola yang sulit dipercaya untuk anak seusianya. Ia bergabung dengan klub lokal Newell’s Old Boys dan dengan cepat menjadi pembeda di antara rekan-rekannya. Namun, di balik bakat itu, ada tantangan besar yang hampir menghentikan langkahnya di usia muda, yaitu gangguan hormon pertumbuhan yang membutuhkan perawatan mahal.
Kondisi tersebut membuat masa depan Messi di Argentina terasa tidak pasti. Banyak klub ragu untuk menanggung biaya pengobatan jangka panjangnya. Titik balik datang ketika FC Barcelona melihat potensi besar dalam diri Messi. Pada usia 13 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Spanyol setelah Barcelona bersedia membiayai perawatannya. Keputusan ini bukan hanya mengubah hidup Messi, tetapi juga arah sejarah klub tersebut. Ia berkembang di akademi La Masia, tempat teknik, visi bermain, dan kecerdasannya di lapangan semakin diasah.
Debut Messi bersama tim utama Barcelona terjadi pada tahun 2004, saat usianya baru 17 tahun. Dari sana, kariernya melesat dengan kecepatan yang jarang terjadi dalam sepak bola modern. Ia bukan hanya mencetak gol, tetapi juga mengubah cara permainan Barcelona dijalankan. Bersama pemain seperti Xavi dan Andrés Iniesta, Messi menjadi pusat dari gaya tiki-taka yang mendominasi Eropa dan dunia. Gol-golnya datang dengan berbagai cara, dari dribel melewati beberapa pemain hingga penyelesaian sederhana yang menunjukkan ketenangan luar biasa.
Sepanjang lebih dari satu dekade di Barcelona, Messi memecahkan rekor demi rekor. Ia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub, memenangkan banyak gelar La Liga, Liga Champions, dan penghargaan individu Ballon d’Or. Namun, di tengah kejayaan itu, selalu ada satu bayangan yang mengikuti kariernya, yaitu performanya bersama tim nasional Argentina. Banyak pihak menilai Messi belum mampu membawa Argentina ke puncak, terutama jika dibandingkan dengan Diego Maradona.
Tekanan itu semakin besar setelah beberapa kegagalan di final turnamen besar. Argentina kalah di final Copa América 2007, Piala Dunia 2014, serta Copa América 2015 dan 2016. Messi sering menjadi sasaran kritik, dituduh tidak memiliki jiwa kepemimpinan atau emosi yang sama seperti legenda Argentina sebelumnya. Bahkan pada tahun 2016, ia sempat mengumumkan pensiun dari tim nasional, sebuah keputusan yang menunjukkan betapa berat beban mental yang ia tanggung.
Namun, Messi kembali dan perlahan mengubah narasi tersebut. Ia tidak lagi mencoba menjadi sosok yang sama dengan Maradona, melainkan versi terbaik dari dirinya sendiri. Puncaknya terjadi pada Copa América 2021, ketika Messi memimpin Argentina meraih gelar juara setelah mengalahkan Brasil di final. Trofi itu terasa sangat emosional, bukan hanya bagi Messi, tetapi juga bagi seluruh bangsa Argentina yang telah lama menunggu.
Tak lama setelah itu, perjalanan karier Messi memasuki babak baru. Pada tahun 2021, ia harus meninggalkan Barcelona karena masalah finansial klub. Perpisahan itu terjadi dengan cara yang pahit, mengakhiri hubungan panjang yang telah membentuk identitasnya sebagai pemain. Messi kemudian bergabung dengan Paris Saint-Germain. Di Prancis, ia menghadapi tantangan adaptasi, baik dari segi gaya bermain maupun ekspektasi publik. Meski tidak selalu tampil dominan seperti di Barcelona, ia tetap menunjukkan kualitas kelas dunia dan menambah pengalaman baru dalam kariernya.
Momen paling menentukan dalam perjalanan Messi datang pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Turnamen itu menjadi panggung di mana seluruh cerita tentang kariernya seakan dirangkum. Messi tampil sebagai pemimpin sejati, mencetak gol penting di setiap fase gugur, dan membawa Argentina ke final melawan Prancis. Final tersebut dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Ketika Argentina akhirnya menang lewat adu penalti, Messi resmi melengkapi warisannya. Ia tidak lagi hanya pemain hebat, tetapi juga legenda yang membawa negaranya ke puncak dunia.
Setelah menjuarai Piala Dunia, Messi melanjutkan kariernya dengan pindah ke Inter Miami di Amerika Serikat. Keputusan ini sempat mengejutkan, tetapi menunjukkan sisi lain dari Messi yang ingin menikmati sepak bola di lingkungan baru. Meski bermain di liga yang berbeda, pengaruhnya tetap besar, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia membantu meningkatkan popularitas sepak bola di Amerika dan tetap menjadi panutan bagi pemain muda.
Menjelang Piala Dunia 2026, perjalanan karier Lionel Messi menjadi fondasi penting bagi tim nasional Argentina. Ia mungkin tidak lagi berada di puncak fisik seperti satu dekade lalu, tetapi pengalaman, visi, dan ketenangannya masih sangat berharga. Kerelaan Messi untuk mengikuti keputusan Scaloni, termasuk duduk bi bangku cadangan, patut diacungi jempol. Daripada mengikuti keinginan untuk tampil sebagai hero bagi timnya, Messi bersedia mengalah pada rekan-rekan setimnya yang juga punya potensi demi regenerasi tim nasional Argentina.
Akankah Argentina berhasil mempertahankan gelar seandainya Messi benar-benar duduk di bangku cadangan? Cek jadwal Piala Dunia 2026 guna mengintip kekuatan para calon lawan dan mengukur peluang menang Argentina.